Saat
itu, aku Isim Mufrod,tunggal sendiri saja
Seperti kalimat huruf,sendiri tak bermakna
Seperti
fi’il Laazim,mencintai tapi tak ada yang di cintai
Tak
mau terpuruk dan terdiam, aku harus menjadi Mubtada’,
Memuai
sesuatu,menjadi seseorang Fa’il,yang berawal dari fi’il
Tapi
aku seperti fi’il mudhoori’ allazii lam yattasil biaakhirihii syaiun
Mencari
sesuatu,tapi tak menemukan sesuatu apapun di akhir
Bertemu
dengan mu adalah Khobar muqaddam
Sebuah
kabar yang tak di sangka
Akupun jadi mubtada’ muakhor,perintis yang kesiangan
Aku mulai dengan sebuah kalam dari susunan
beberapa lafaz
Yang mufid,terkhusus untuk dirimu dengan penuh makna
Dari sini semua bermula
Aku dan kam, bagaikan Idhofah
Aku mudhof,dan kamu mudhofilaih
Tak bisa di pisahkan
Cintaku
padamu,beri’rob rofa’.tinggi
Bertanda
dhummah.bersatu, cinta kita bersatu
Mencapai
derajat tertinggi.
Jika kita terpacah belah tak
bersatu,rendahlah derajat cinta kita
Karenanya, kan kujaga cinta kita,layaknya
izim yang beri’rob Jazm
Penuh kepastia
Bertanda dengan sukun,ketenangan
Kan kita gapai cinta yang penuh damai
Saat semua terkait dengan kepastian tanpa
ragu-ragu.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar